Digital Audio Workstation

1/22/2015 0 Comments


Untuk bagi para musisi biaya latihan dan rekaman adalah modal yang cukup besar di awal karir, beruntunglah bagi kalian yang hidup di era komputer, dan dengan adanya DAW (Digital Audio Workstation), mungkin untuk sekarang ditahun 2015 hal ini sudah tidak asing lagi bagi para pelaku industri audio, bahkan banyak orang awam yang juga mulai mengenal DAW dan menjadikan ini sebagai hobi baru bagi mereka, berbeda dengan awal perjuangan DMU (Digital Music University) dimana masih banyak pelaku audio yang berpatok pada hardware, dan dengan revolusinya pada saat itu, DMU mengajak untuk berpindah ke musik digital yang tentunya berbasis DAW. Berbagai seminar saat itu banyak orang tercengang hanya bermodal sebuah laptop yang sudah di install DAW sudah bisa membuat sebuah lagu.

Saat ini sudah banyak yang tahu akan hal itu, sudah hampir 8 tahun DMU berdiri dan menyuarakan perubahan dalam industri audio, maka saat kita menjelaskan sebuah DAW tentunya itu bukan hal baru lagi dan sudah banyak yang mengetahuinya, tapi yang namanya manusia setiap hari ada yang lahir, setiap hari ada yang mendapatkan KTP baru (17 tahun), setiap hari ada lulusan SMA, SMP, SD.

Untuk itu buat mereka yang masih awam dengan DAW, jika kalian ingin menjadi musisi maka belajar DAW merupakan modal tambahan yang dapat membuat kalian terlihat keren, bayangkan dirimu adalah seorang gitaris, dan membawa sebuah laptop dan Audio Interface (Soundcard External), kalian bisa menulis lagu kapanpun dimanapun inspirasi kalian muncul, laptop kalian dan Audio Interface adalah senjata tambahan yang berfungsi sebagai Studio Berjalan, Minus One Player, Minus One Maker, Video Player, bahkan efek gitar digital bisa kalian simpan dalam sebuah DAW.

Sebuah paket lengkap bukan, satu aplikasi bisa untuk menunjang penampilan kalian di panggung, Nyalakan laptop disamping panggung, sambungkan sebuah Audio Interface, Input gitarmu kedalam Audio Interface, setting DAW mu, Track pertama isi dengan Minus One yang akan kamu tampilkan diatas panggung, track kedua adalah suara gitarmu, setting juga efeknya, kalo kalian punya sebuah video klip atau sebuah visualisasi penunjang penampilan bisa juga kalian atur. Sekedar tips, setting semuanya di rumah dan jadikan itu sebuah cara kerja paten untuk setiap penampilanmu, dan Hell yeaaahh.... dengan hanya menekan tombol play, pertunjukkan solo gitarmu akan segera dimulai, dan heey kamu bisa merekamnya juga, dan mengatur audionya jika sudah di rumah, export menjadi mp3 atau Wav, share ke temanmu di Youtube, Soundcloud, Facebook, Reverbnation, dll.

Kalau kamu ingin menghasilkan uang, kamu cukup cari orang yang bisa design dan buat Art Covernya, dan jual lagumu di iTunes, Amazon, Rhapsody, CD baby, dan banyak toko musik digital yang tersebar di seluruh dunia. Gak mau repot? Kontak aja DMU Production, kita menyediakan semua jasa itu.

Nah, Hebat kan sebuah DAW bisa menjadikan dirimu musisi Independent Sejati, pengen tahu cara penggunaan DAW dengan benar, yuk ikut kelas di Digital Music University, ada Short Class (Kursus) atau ada program 1 Tahun yang menjadikanmu pelaku industri Audio profesional.

0 komentar:

Mac Mana Yang Kamu Pilih

1/12/2015 , 1 Comments



Ada 4 jenis mac yang dapat kamu pilih untuk keperluan Audio Recording

  1. The Mac Mini
  2. The Macbook Pro
  3. The iMac
  4. The Mac Pro

Mari kita lihat satu persatu kemampuan setiap jenis mac ini.

1. The Mac Mini
The Mac Mini
Untuk pemulah Mac Mini sangat direkomendasikan, kenapa? Karena harganya paling murah diantara semua tipe. Walaupun begitu Mac Mini memiliki kelemahan yaitu pembelian tidak termasuk monitor, mouse, keyboard dan alat penunjang lainnya, anggap saja membeli sebuah perangakat CPU saja.

2. The Macbook Pro
The Macbook Pro
Dibandingkan dengan Mac Mini, Macbook Pro lebih memiliki keunggulan yaitu, lebih cepat, lebih mudah dibawa kemana saja layaknya sebuah laptop, memiliki Resolusi layar yang cukup tinggi dengan retina displaynya. Jika kamu ingin studio yang bersifat mobile, maka saran terbaik adalah Macbook Pro, dan termasuk salah satu idaman favorit para pekerja Audiopreneur.

3. The iMac
The iMac
Jika portbale atau mudah dibawa kemana saja tidak menjadi pilihan utama, atau ingin membangun sebuah studio permanen iMac menjadi pilihan berikutnya, memiliki kelebihan yang tidak dimiliki Macbook Pro yaitu, lebih cepat dari Macbook Pro, secara desain sangat elegan dan keren ditaruh ditengah meja studio rekaman, memiliki layar cukup besar yang sudah built-in dengan boardnya.
Jika kamu memiliki uang yang cukup banyak dan tidak membutuhkan untuk menentengnya kemana-mana seperti laptop maka iMac sangatlah sempurna untuk kebutuhanmu.

4. The Mac Pro
The Mac Pro
Selain iMac tidak ada lagi yang dapat disarankan selain Mac Pro, digunakan oleh studio profesional di seluruh belahan dunia, untuk dipakai keperluan rekaman Mac Pro lebih dari sangat cukup, mempunyai kecepatan yang fantastis untuk dipakai rekaman yang menggunakan Track dan Plugin yang banyak, dan tentunya memiliki kapasitas untuk menyimpan recording sesion di Hard Disk yang cukup besar, dan mempunyai slot yang mudah dilepas dan dipasang untuk keperluan upgrade Hardware, semua kebutuhan akan kecanggihan sebuah komputer telah disediakan Mac Pro, dan tentunya tidaklah murah.


1 komentar:

Dukun Audio

1/05/2015 0 Comments

Banyak dari kita mengenal dunia musik melalui otodidak, mulai dari membaca buku, lihat tutorial, belajar dari teman yang sudah mahir, begitu juga dalam dunia Audio Engineer kebanyakan di Indonesia mereka belajar otodidak walaupun ada juga mereka yang mengenyam bangku pendidikan.

Audio Engineer di Indonesia biasanya mengawali karir dengan bekerja di salah satu penyedia jasa layanan sound system, mereka mulai mempelajari sendiri kegunaan setiap tombol knob, fungsi fader, routing kabel berdasarkan pengalaman di lapangan.

Seberapa penting sih sebenarnya pendidikan formal di bidang ini? Toh juga anak band, musisi saat mereka manggung tidak ditanyain ijazah sarjana musik. Jadi kebanyakan mereka merasa tidak perlu mengenyam pendidikan formal dalam industri musik.

Sekedar perbandingan saja, ilmu kedokterna juga bisa dipelajari loh walaupun tidak mengenyam kuliah jurusan kedokteran yang biayanya ratusan juta, toh kita bisa belajar dari pengalaman dan bertanya, banyak buku-buku juga tentang kedokteran apalagi kita hidup di era digital, dimana kita sangat mudah mendapatkan sebuah informasi.

Tapi kemampuan menyembuhkan seseorang walaupun sama-sama bisa, yang membedakan adalah mereka yang menempuh jalur pendidikan akan disebut DOKTER sedangkan mereka yang otodidak akan disebut DUKUN, harga dokter tentunya jauh lebih mahal dibandingkan dukun, profesionalisme tidak usah diragukan lagi, ada sebuah tanggung jawab secara moral dan etika yang jelas bagi mereka yang menempuh jalur pendidikan, seorang dokter memberikan rasa aman kepada pasienya tentang jaminan kesehatan dan keamanan, sedangkan dukun? Yaaa.... agak was-was juga kadang ada yang sembuh dan ada yang malah tambah parah, kalau kata orang jawa “murah njaluk selamet” (Murah tapi mau selamat).

Oke, kembali ke dunia musik, sudah selayaknya mereka walaupun jago secara otodidak tapi harus dilengkapi pendidikan formal di bidangnya, semua orang bisa belajar matematika dijalan, tapi tetap harus pergi ke sekolah. Nah, yang jadi kendala adalah pemerintah Indonesia masih minim perhatian terhadap industri ini, bisa dihitung jari institusi musik dan sekolah musik di Indonesia, kebanyakan masih berbentuk Kursus.


Untuk Audio Engineer sendiri malah Digital Music University menjadi sekolah audio digital pertama di Indonesia, jadi stop menjadi dukun audio, sudah saatnya kita menjadikan profesi audio ini menjadi profesional atau jadi dokter audio, dengan menempuh program 1 tahun di Digital Music University kalian bisa transfer program ke JMC Academy Australia, pulang membawa gelar Audio Engineer dan membawa perubahan untuk dunia Audio Engineer di Indonesia.

0 komentar: